Hanya satu catatan dari pengamatan saya

Hasil pengamatan seputar kehidupan sehari-hari, jalan-jalan, film, hingga soal sejarah, kereta api dalam dan luar negeri
Showing posts with label Event. Show all posts
Showing posts with label Event. Show all posts

Friday, 1 June 2018

Beginilah Persiapan Balai Yasa Yogyakarta Hadapi Angkutan Lebaran 2018


Menghadapi datangnya angkutan Lebaran 2018, PT KAI Daop 6 Yogyakarta telah melakukan berbagai persiapan. Mulai dari kereta api tambahan, rangkaian kereta api baru, dan juga perbaikan lokomotif dan genset yang dilakukan di Balai Yasa Yogyakarta. 

petugas sedang melakukan perbaikan lokomotif di Balai Yasa Yogyakarta, Kamis (5/4/2018). Foto: TRIBUNJOGJA.COM / Kurniatul Hidayah

Manajer Humas PT KAI Daop 6 Yogyakarta, Eko Budiyanto menjelaskan terdapat 6 kereta api tambahan pada saat masa lebaran yang meliputi Argo Lawu jurusan Gambir-Solo, Argo Dwipangga jurusan Gambir-Solo, Tatsaka  jurusan Gambir-Yogyakarta, Sancaka jurusan Yogyakarta-Surabaya Gubeng, dan Lodaya jurusan Bandung-Solo.

"Kereta api tambahan tersebut beroperasi pada 5 Juni 2018 mendatang. Adapun kapasitas tambahan yang disediakan kereta api tambahan sejumlah 9.400-an tempat duduk per harinya," ucapnya di sela-sela pemantauan pengerjaan lokomotif di Balai Yasa, Kamis (5/4/2018).

Pada masa lebaran 2018, lanjutnya, prediksi peningkatan penumpang naik 4 persen dari lebaran tahun 2017. Sementara itu, terkait dengan pemesanan tiket untuk kereta angkutan lebaran secara resmi akan dibuka pada 16 April 2018 terhitung pada pukul 00.00.

Sunday, 17 December 2017

Aksi Perdana Railclinic di Purworejo

Armada Railclinic yang terparkir di jalur 1 stasiun Wojo dipenuhi oleh masyarakat yang ingin berobat, Sabtu (19/12). Setelah dibuat dan diluncurkan, armada kesehatan pertama di Indonesia milik PT KAI yakni Railclinic akhirnya dioperasikan. Stasiun Wojo di Purworejo mendapat kesempatan perdana menikmati layanan ini.
Setelah dipersiapkan dan kemudian diluncurkan pada awal Desember 2015, akhirnya armada kereta api (KA) Kesehatan "Railclinic" dioperasikan. Aksi perdana kereta yang dikhususkan untuk kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) PT Kereta Api Indonesia (KAI) ini digelar di stasiun Wojo, Sabtu (19/12/2015).

Ratusan warga yang telah mendapatkan informasi sejak beberapa hari kemudian berjubel memadati stasiun yang terletak di desa Dadirejo kecamatan Bagelen, Purworejo, sejak pagi. Tenda dan kursi yang disediakan panitia pun berangsur penuh.


Monday, 11 December 2017

Tiket Edmonson, Riwayatmu Dulu...

Mengenang Kembali Tiket Kereta Berbentuk Kartu

Satu dari beberapa benda yang dipajang di stand PT Kereta Api Indonesia dalam Pameran Koleksi Unggulan Museum DIY dan Nusantara adalah tiket kereta api. Sebelum memakai tiket boarding pass seperti sekarang, perkeretaapian Indonesia pernah memakai beberapa bentuk tiket.
Seorang petugas memperlihatkan tiket jenis edmonson di stand PT Kereta Api Indonesia dalam Pameran Koleksi Unggulan Museum DIY dan Nusantara di Jogja City Mall, belum lama ini. Tiket berbentuk kartu ini merupakan bentuk tiket yang sempat dipakai sebelum memakai tiket modern saat ini.

Sejarah panjang perkeretaapian Indonesia selain terlihat dari bentuk sarana kereta juga bisa dinikmati dari fasilitasnya. Satu contohnya adalah bentuk tiket kereta. Sekitar satu setengah abad kehadiran kereta api di Nusantara, berbagai jenis tiket telah dipakai. Namun yang benar-benar cukup lama dipakai adalah tiket edmonson.

Tuesday, 21 November 2017

Mengunjungi 24 Stasiun di Wilayah Kerja PT KAI Daop 6 Yogyakarta

Perpisahan yang Mengesankan
Meski kejadian di tulisan ini telah lama berlalu, namun tak pelak, tetap meninggalkan kesan di hati sebagian pecinta kereta api alias railfans di Yogyakarta. Karena itu, tidak ada salahnya menikmati kenangan luar biasa ketika pecinta kereta api merasakan keramahan dan kekeluargaan dari para pimpinan operator kereta api.
Inilah kisah berkesan itu...

Meski telah dilantik sebagai Executive Vice President (EVP) PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 8 Surabaya, namun Wiwik Widayanti ingin meninggalkan jejak positif di tempat kerjanya yang lama. Ia yang selama setahun sebelumnya menjabat sebagai EVP Daop 6 Yogyakarta berpamitan kepada segenap jajarannya. Bukan sembarang pamitan, Wiwik mengunjungi seluruh stasiun aktif di Daop 6.
Pada Sabtu (17/10/2015) pagi, stasiun Tugu Yogyakarta terlihat ramai oleh penumpang baik penumpang KA jarak jauh maupun lokal. Menjelang pukul 07.00, satu rangkaian kereta rel diesel (KRD) jenis MCW302 meluncur pelan dari timur memasuki jalur 4. Anehnya, tidak ada penumpang yang bersiap naik. Justru, puluhan pegawai PT KAI Daop 6 yang menunggu dan bersiap naik, ditambah beberapa pecinta kereta api dari Yogyakarta dan Solo.

Thursday, 19 February 2015

Uniknya Kotagede Night Tour

Melihat Kotaraja di Malam Hari

Sebagai bekas Ibukota Kerajaan Mataram, Kotagede menyimpan banyak peninggalan bersejarah selain pesona kerajinan peraknya. Berbagai situs peninggalan sejarah masa lalu bertebaran di daerah ini.
Para peserta Kotagede Night Tour sedang mengikuti rute tour. Dok Massatrust




Berbagai cara pun bisa ditempuh untuk menikmati dan mengagumi pesona lampau tersebut. Selain tur umum yang banyak ditawarkan agen perjalanan wisata pada umumnya, banyak cara lain yang bisa ditempuh.

Keindahan dan pesona Kotagede tergambar pada  jalan-jalan sempit, dengan toko-toko perak tradisional dan rumah berubin mosaik berjajar di tepi jalan. Kota ini juga dipenuhi bangunan kuno yang merupakan rumah pedagang Arab dan Belanda. Sementara itu, masyarakat Kotagede hidup dalam nuansa kehidupan masyarakat Jawa yang masih kental.

Tidak hanya menawarkan eksotisme obyek wisata, namun melongok lebih jauh ke dalam jantung kehidupan masyarakatnya. Itulah yang ditawarkan oleh Kotagede Night Tour.

Berbeda dengan tur pada umumnya yang dilakukan pada pagi atau siang hari, tour ini dilakukan pada sore atau malam hari. Tujuannya, melihat sisi lain Kotagede yang selama ini nyaris tak tersentuh turis.

Tuesday, 3 February 2015

Mengantar Karya Kebanggaan Bangsa



Ternyata Indonesia Telah Mampu 

Memroduksi Lokomotif pada 1960an




Lokomotif Bima Kunting yang telah selesai dipreservasi dicuci dan diparkir di spoor cucian Balai Yasa Yogyakarta. Dok Pri
PT Kereta Api Indonesia (KAI) melakukan pemindahan lokomotif Bima Kunting pada Kamis (29/1/2015). Tentunya ada alasan kuat mengapa lokomotif ini menjadi pilihan untuk dipindah ke Museum Benteng Vredeburg dari kebun Balai Yasa Yogyakarta. Ke depannya, lokomotif ini akan menjadi monumen untuk menumbuhkan kecintaan pada perkeretaapian dalam negeri.

Di tengah gencarnya berbagai macam produk dan teknologi impor, siapa menyangka bangsa Indonesia sebenarnya telah cukup maju dalam teknologi. Satu contohnya adalah Bima Kunting yang merupakan lokomotif diesel produksi anak bangsa. Hebatnya, hal itu dilakukan pada 1960an!

Sunday, 21 December 2014

Memoar 22: Harmonisasi Pedesaan dalam Gejuk Lesung

Elia Menikmati Hentakan Suara Lesung

Di tengah gempuran budaya modern, sekelompok warga di Kelurahan Pangenrejo kecamatan Purworejo Kabupaten Purworejo masih teguh memegang budaya peninggalan nenek moyang. Istimewanya mereka merupakan warga yang tinggal di wilayah perkotaan. namun demikian, mereka malah menggandrungi kesenian yang umumnya disukai petani pedesaan: Gejuk Lesung.

Gejuk Lesung merupakan kesenian yang berasal dari budaya kehidupan petani pedesaan Jawa tempo dulu. Waktu itu untuk menghasilkan beras dari buliran padi, petani menumbuk gabah menggunakan lesung yang ditumbuk dengan alu. Dalam prosesnya, untuk menumbuk padi dalam lesung dibutuhkan beberapa orang.
 
Grup Kesenian Gejuk Lesung "Mardi Swara" dari kelurahan Pangenrejo kecamatan/kabupaten Purworejo sedang tampil dalam pembukaan Gebyar Buku dan Budaya Purworejo 2013
"Karena itu, tumbuk padi ini juga menjadi momen kerukunan pengerat hubungan antar warga. Karena dilakukan bersama-sama, ketika akan menumbuk padi, lesung digejuk (dipukul) dengan irama tertentu untuk memanggil warga lainnya. Namun, irama tersebut ternyata memiliki keindahan tersendiri," jelas pemimpin kelompok seni Gejuk Lesung "Mardi Swara," di kelurahan Pangenrejo, Suwardiyo (51) belum lama ini.

Suwardiyo menuturkan, untuk menumbuk padi dalam lesung, dibutuhkan sekitar enam orang. Masing-masing memiliki alu yang berbeda bentuk dan bahannya. Namun, dari perbedaan inilah nada-nada yang berbeda dihasilkan. Dengan memukul secara bergantian, nada-nada yang rancak pun dihasilkan.

"Menumbuk padi lama-kelamaan menjadi semacam kebiasaan tersendiri untuk orang Jawa pada zaman dulu. Setelah lesung tergeser oleh mesin giling padi, kerinduan mendengarkan suara alu yang beradu dengan lesung masih saja ada. Karena itulah kami membentuk grup kesenian Gejuk Lesung ini," paparnya ketika ditemui di sela Pembukaan Gebyar Buku dan Budaya di Gedung Wanita, Purworejo.

Selain enam penumbuk, dalam kesenian ini diperlukan pula beberapa penyanyi atau penggerong. Dengan menyanyikan lagu-lagu Jawa lama dan lagu-lagu dolanan, mereka berhasil menampilkan perpaduan serasi antara irama tumbukan lesung dan alu dengan suara penyanyi. Tak ayal, mereka yang masa kecilnya pernah bersentuhan dengan budaya tumbuk padi dengan lesung ini pun terpesona dengan penampilan kelompok ini.
 
Grup Kesenian Gejuk Lesung "Mardi Swara" dari kelurahan Pangenrejo kecamatan/kabupaten Purworejo sedang tampil dalam pembukaan Gebyar Buku dan Budaya Purworejo 2013
Seorang pemain Gejuk Lesung, Elia Rizky Pramono (16) mengungkapkan, ada keasyikan tersendiri mendengarkan suara hentakan alu ke lesung. Meskipun ketika ia lahir peran lesung telah tergeser oleh mesin giling padi, namun ia mengaku bisa menikmati kesenian ini.

"Asyik aja, suaranya bikin semangat terus," jelas remaja ini.

Meskipun terlihat sederhana, lanjut Elia, ada kesulitan tersendiri dalam memainkan Gejuk Lesung. Hal tersebut utamanya dalam mengharmoniskan hentakan alu agar menghasilkan nada yang baik dan tidak saling menutup.

"Karena itu, latihan jadi hal yang pentig. Biasanya kalau ada panggilan pentas, latihan jadi intensif, bisa dua-tiga kali seminggu," jelasnya.

Suwardiyo menyambung, awalnya grup kesenian tersebut terbentuk secara tidak sengaja. Pada suatu acara Natalan di GKJ Purworejo Selatan, timbullah keinginan menampilkan kesenian tradisional. Kemudian tercetuslah ide menampilkan Gejuk Lesung.

"Ternyata kesenian mendapat sambutan yang baik dari jemaat gereja. Malah kemudian kesenian ini diminta tampil di berbagai tempat. Jadinya malah keterusan seperti ini," ujarnya sambil tersenyum.

 
Grup Kesenian Gejuk Lesung "Mardi Swara" dari kelurahan Pangenrejo kecamatan/kabupaten Purworejo sedang tampil dalam pembukaan Gebyar Buku dan Budaya Purworejo 2013

Thursday, 18 December 2014

Memoar 19: Grebeg Sulutu di Bagelen

Khasanah Budaya Bagelen yang Unik dan Menarik

Purworejo memiliki berbagai khasanah budaya yang luar biasa dan beragam. Semuanya mencerminkan kehidupan masyarakatnya yang hidup dalam harmoni dengan alam dan sesama. Satu contohnya adalah berbagai acara kebudayaan misalnya Grebeg Sulutu yang ada di Kecamatan Bagelen. Seandainya dikemas dalam acara yang mendapat dukungan pemerintah, tentu tidak hanya Grebeg Sulutu, namun berbagai khasanah kebudayaan lainnya bisa menjadi atraksi wisata budaya yang menarik minat banyak wisatawan.
Puluhan warga berebut gunungan berisi hasil bumi dalam acara grebeg Sulutu di desa Kalirejo kecamatan Bagelen, Purworejo, Minggu (2/12/2012). Meski hujan deras mengguyur, namun warga tetap antusias berebut isi gunungan.


Satu contoh Grebeg Salutu adalah yang diselenggarakan oleh ratusan warga desa Kalirejo kecamatan Bagelen, Purworejo, Minggu (2/12/2012). Dalam grebeg ini warga menampilkan berbagai kesenian seraya berziarah ke dua petilasan di wilayah Bagelen, Purworejo. Acara ini merupakan event tahunan yang diharapkan mendukung upaya desa ini menjadi desa wisata dalam waktu dekat.

Wednesday, 17 December 2014

Memoar 18: Merti Desa Kolosal di Puncak Gunung di Purworejo

Merti Desa, Warga Sembelih 4.220 Ayam

Luar biasa, itulah kiranya kata yang tepat untuk menggambarkan upaya warga desa Kemranggen kecamatan Bruno, Purworejo. Dalam menyelenggarakan tradisi merti desa (semacam bersih desa), warga menyembelih 4.220 ekor ayam. Total dana yang dihabiskan mencapai Rp 217.728.450.
 
Ribuan Ayam menjadi bagian acara merti desa. Dok Pri
Merti desa merupakan acara syukuran setelah warga panen padi. Dengan diadakannya acara itu, warga berharap panen berikutnya hasilnya akan lebih baik. Selain itu, acara tersebut juga untuk mendoakan para leluhur masyarakat setempat sekaligus melestarikan budaya yang ada.

Sebagai bagian acara, warga menyajikan puluhan ambeng yang diletakkan di atas lincak. Rata-rata setiap ambeng dibuat oleh beberapa warga yang tergabung dalam kelompok. Acara merti desa sendiri dimulai sore hari sekitar pukul 17.00.

“Tahun ini meningkat, jika tahun 2009 hanya 49 ambeng, sekarang 51 ambeng, dan tahun 2009 hanya 3.289 ayam sekarang 4.220, selisih 930an ekor,” terang ketua panitia merti desa, Wasikun, Kamis (27/12/2012) sore.

Kegiatan merti desa yang dilakukan setiap tiga tahun sekali, dilakukan di halaman rumah kepala desa Kemranggen dan dihadiri Bupati Purworejo, Muspika kecamatan Bruno dan undangan dari desa sekitar dengan jumlah undangan mencapai sekitar 1.700 orang.

Dalam kesempatan itu Bupati Purworejo selain hadir dalam merti desa di Desa Kemranggen, pihaknya juga memberikan sertifikat kepada Desa Kemranggen untuk dicanangkan sebagai Desa Wisata dan Desa dengan semboyan stop buang air besar sembarangan.

Bupati mengatakan bahwa Desa Kemranggen merupakan satu desa di Kecamatan Bruno yang memunyai berbagai potensi wisata dan banyak budaya lain yang layak dilestarikan. “Dengan didukung oleh kesepakatan masyarakat dalam pencanangan untuk tidak membuang air besar di sembarang tempat, diharapkan desa Kemranggen menjadi desa percontohan dalam budaya yang baik, dan sebagai satu desa wisata yang bisa menjadi andalan Purworejo,” ujar Bupati.

Tuesday, 16 December 2014

Memoar 17: Ritual Menjamas Jaran Kepang

Agar Roh Jahat Tak Masuk


Jaran Kepang merupakan satu bentuk kesenian rakyat yang telah lama berkembang di nusantara. Globalisasi yang terwujud dalam maraknya budaya asing masuk ke Indonesia memang cukup mempengaruhi kelangsungan hidup berbagai kebudayaan nasional Indonesia, tidak terkecuali Jaran Kepang. Namun di Purworejo, kesenian ini memiliki cara sendiri untuk bertahan bahkan berkembang.


Hal itulah yang terlihat dalam kegiatan beberapa warga dusun Krajan Kulon desa Kemanukan kecamatan Bagelen, Purworejo. Pada Minggu (9/12/2012) mereka secara bergotong-royong "menjamas" peralatan Jaran Kepang yang mereka miliki. Inilah sebagai bukti, bahwa sesungguhnya masyarakat di Purworejo masih mencintai budaya sendiri.
 
Puluhan anggota kelompok kesenian Jaran Kepang "Karya Budaya" melakukan prosesi jamasan peralatan Jaran Kepang. Dok Pri
Bagi kelompok warga tersebut, peralatan Jaran Kepang bagaikan pusaka yang harus dirawat secara rutin. Tidak ubahnya keris yang dijamas setiap bulan Sura dalam penanggalan Jawa, berbagai peralatan Jaran Kepang dibersihkan dan diset kembali seperti keadaan awalnya.

Saturday, 13 December 2014

Memoar 14: Jelajah Jalur KA Purworejo-Kutoarjo


Railfans Yogya Jelajahi Jalur Non Aktif Purworejo-Kutoarjo

Tidak sekedar menyukai untuk diri sendiri, namun juga memberikan bukti nyata. Itulah kiranya yang bisa dikatakan untuk menggambarkan aktivitas pecinta kereta api dari Yogyakarta yang tergabung dari Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) dan Railfans Yogyakarta (RF YK). Pada Minggu (16/9/2012), mereka melakukan penjelajahan jalur non aktif Purworejo-Kutoarjo sepanjang sekitar 12 kilometer tersebut.
Tim penjelajah dari IRPS dan RF YK sedang menelusuri bekas halte Batoh. Tampak di belakang jalur rel tertutup rerumputan sehingga terkesan hilang. Dok Pri

Berangkat dari kota Yogya secara terpisah, sekitar 12 orang pecinta kereta api yang identik dengan sebutan Railfans ini berkumpul di stasiun Purworejo sekitar pukul 10.00. Setelah berdiskusi di kompleks stasiun dan melakukan pengamatan, sekitar pukul 11.00 penjelajahan dilakukan dengan sepeda motor menuju Kutoarjo. Di sepanjang perjalanan, banyak hal menarik ditemukan.

Thursday, 11 December 2014

Laporan Perjalanan Uji Coba Kedua Railbus Bathara Kresna

Ketika Stasiun Wonogiri Berbenah Diri
Railbus Bathara Kresna stand by di jalur 1 Stasiun Pruwosari sebelum diberangkatkan ke Wonogiri. Dok Pri

Kalau tidak salah, sudah hampir empat tahun jalur kereta api Purwosari (Solo) ke Wonogiri tidak aktif. Sebelumnya, selama beberapa tahun jalur ini dirayapi KA Feeder Bengawan. Banyak kenangan unik penulis di jalur tersebut.

Pada Kamis (4/12/2014) kesempatan untuk menengok jalur ini pun datang kembali. PT Kereta Api Indonesia (KAI) bersama pemerintah daerah di sepanjang jalur mengadakan ujicoba Railbus Bathara Kresna. Sebetulnya ini bukan ujicoba yang pertama kali. Beberapa kali jalur ini dicoba baik menggunakan Railbus maupun KRDH Prameks. Bahkan seminggu sebelumnya juga ada ujicoba menggunakan railbus. Namun waktu itu saya tidak dapat ikut karena informasi yang mendadak dan sudah ada jadwal acara.

Tuesday, 9 December 2014

Memoar 11: Kepahlawanan Darman Prasetyo dan Kru KRL 1131

Mengenang Prosesi Pemakaman Masinis KRL Commuter Line 1131

Merinding…itulah yang saya rasakan ketika meliput proses penjemputan jenazah hingga pemakaman almarhum Darman Prasetyo. Masinis korban tabrakan antara Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line 1131 di Bintaro pada 9 Desember 2013 ini dimakamkan di tanah kelahiran orangtuanya di desa Jenar Wetan kecamatan Purwodadi, Purworejo.

Perasaan merinding itu bukan perasaan yang sama ketika melewati tempat wingit nan angker, ataupun ketika merasa kedinginan. Merinding itu lebih pada rasa kagum dan hormat pada apa yang dilakukan mas Darman. Perasaan merinding yang belum pernah saya alami kembali hingga saat ini.

Mata saya berkaca-kaca ketika melihat foto pemberangkatan jenazah alm Darman pada 9 Desember di Stasiun Gambir. Menggunakan KA Argo Lawu, jenazah dipulangkan ke Purworejo untuk pemakaman. Proses pengiriman jenazah menggunakan KA ini termasuk momen langka.

Bukan, bukan itu yang membuat saya merasa kagum dan terharu. Di koran Jawa Pos, foto pemberangkatan sungguh dramatis. Ratusan karyawan PT kereta Api Indonesia (KAI) memberi hormat ketika semboyan 40, 41 dan 35 dilakukan. Mulai dari petinggi hingga karyawan di lapangan, semuanya larut dalam suasana khidmat memberikan penghormatan terakhir pada rekan mereka yang gugur ketika menjalankan tugas di lapangan.
Ratusan Karyawan PT KAI memberi hormat ketika KA Argo Lawu yang membawa jenazah masinis KRL 1131 Darman Prasetyo diberangkatkan dari stasiun Gambir, Jakarta. Sumber: Jawa Pos

Sorot kamera menangkap, tidak sedikit mereka yang ikut memberi hormat itu berkaca-kaca kedua matanya. Tak sedikit yang terisak ketika kereta perlahan meninggalkan stasiun khusus kereta kelas eksekutif tersebut.

Saturday, 6 December 2014

Jalan-Jalan ke Madiun dan Sekitarnya (2)

Blusukan ke Pabrik Sarana Perkeretaapian Satu-satunya di Asia Tenggara

Tiba di kawasan INKA yang terletak di utara stasiun Madiun, rombongan ditemui oleh perwakilan INKA, Wiweka Saputro dan sejumlah staff Humas. Direktur Keuangan Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia (SDM) PT INKA‎ Mohamad Nur Sodiq yang direncanakan menemui rombongan dari Purwokerto ini berhalangan karena sedang mengikuti Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Jakarta.
Rombongan PT KAI diterima jajaran Humas INKA di aula. Dok Pri

Wiweka pun ramah menyambut kedatangan rombongan DAOP V dan awak media. Menurutnya, INKA sudah banyak mendapat kunjungan tidak hanya dari user produk INKA namun juga dari berbagai komunitas pecinta Kereta Api. Ia mengungkapkan, setiap kunjungan merupakan kesempatan yang berharga untuk INKA memperkenalkan produknya. Karena itu, ia mengapresiasi kedatangan rombongan.

“Kami sangat senang dan bangga ada kunjungan dari user produk INKA dalam hal ini PT KAI. Selain itu, kami juga menyambut kedatangan rekan media massa. Semoga kunjungan kali ini dapat membawa manfaat,” katanya.

Setelah saling beramah-tamah, sejarah singkat INKA pun dipaparkan oleh staff humas. Dalam kesempatan itu, penjelasan juga disertai slide yang menggambarkan perkembangan INKA yang menempati lahan seluas 22,5 Ha ini.

Friday, 5 December 2014

Jalan-jalan ke Madiun dan Sekitarnya (1)

Menuju ke Madiun Sembari Melepas Lelah di Telaga Sarangan

Sebagai railfans, adalah hal yang wajar untuk terus mengenal seluk-beluk dunia perkeretaapian, satu di antaranya adalah sarana. Setelah beberapa waktu yang lalu melihat proses perawatan sarana perkeretaapian di Balai Yasa Yogyakarta dan proses pelatihan masinis di Balai Pelatihan Teknik Traksi (BPTT) Darman Prasetyo Yogyakarta, kali ini pabrik pembuat sarana perkeretaapian yang menjadi tujuan.

Adalah PT Industri Kereta Api (INKA) yang menjadi tujuan kunjungan saya pada pertengahan November lalu. Banyak hal saya pelajari dari pabrik sarana perkeretaapian kebanggaan bangsa Indonesia ini. 

Di tengah derasnya gempuran produk dan teknologi impor, ternyata bangsa Indonesia telah memiliki keunggulan di bidang kereta api. Hal itu terlihat dari keberadaan PT INKA di Madiun yang merupakan satu-satunya pabrik Kereta Api (KA) di kawasan Asia Tenggara sampai saat ini.

Sebagai produsen sarana perkeretaapian, PT INKA telah menghasilkan banyak produk yang dipakai di dalam dan luar negeri. Mulai dari kereta penumpang berbagai kelas, gerbong barang hingga lokomotif telah dibuat oleh perusahaan yang diprakarsai BJ Habibie ini.

Pekan lalu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop V Purwokerto sebagai satu dari beberapa klien PT INKA melakukan kunjungan ke pabrik yang terletak di kawasan Stasiun Madiun. Dalam kunjungan tersebut, beberapa awak media termasuk penulis turut diajak untuk melihat proses pembuatan sarana perkeretaapian.

Rombongan PT KAI yang dipimpin Corporate Communication Manager Daop V, Surono berangkat dari Purwokerto bersama sejumlah wartawan. Menggunakan KA Gaya Baru Malam Selatan, rombongan pun bertolak ke Madiun. Perjalanan yang diharapkan cukup lancar sempat tersendat karena kedatangan KA GBMS yang terlambat sekitar 20 menit di Stasiun Purwokerto.
Stasiun Lempuyangan yang tidak terlalu ramai menjelang kedatangan KA Gaya Baru Malam Selatan. Dok Pri

Menggunakan perhitungan tersebut, sambil terus mengontak pak Surono, penulis pun menunggu di Stasiun Lempuyangan mulai pukul 19.00. Menjelang pukul 19.30 yang merupakan waktu kedatangan normal KA GBMS, PPKA stasiun Lempuyangan mengumumkan bahwa KA GBMS diperkirakan mengalami keterlambatan sekitar 40 menit.

Jadilah kereta kemudian masuk ke Lempuyangan sekitar pukul 20.15. Setelah mendapatkan tiket keberangkatan dan kepulangan, penulis pun bergegas masuk ke kereta 1 dimana jajaran DAOP V dan media telah menunggu. Tidak lama kemudian KA GBMS berangkat menuju Madiun.

Wednesday, 26 November 2014

Ketika Pecinta KA Diajak Melihat Jeroan Kereta Api

Puluhan pecinta KA dari Purwokerto, Semarang, Madiun, Surabaya dan Yogyakarta berfoto bersama jajaran PT KAI Daop VI di depan gedung Bimaloka Kompleks Kantor PT KAI Daop VI Yogyakarta. Dok Pri

Perkeretaapian di Indonesia memiliki banyak khasanah unik dan menarik. Sayangnya, tidak banyak orang yang tahu akan hal itu. Namun demikian dari tahun ke tahun semakin banyak hal menarik yang diketahui masyarakat dan kalangan pecinta kereta api.
Satu contohnya adalah ketika puluhan pecinta kereta api (railfans) dari Purwokerto, Semarang, Solo, Madiun, Surabaya dan Yogyakarta melakukan kunjungan ke area kerja PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop VI Yogyakarta. Selain bersilaturahmi dengan jajaran Daop VI, railfans juga melakukan kunjungan ke Balai Yasa Yogyakarta dan Balai Pelatihan Teknik Traksi (BPTT) Darman Prasetyo Yogyakarta.
Balai Yasa Yogyakarta merupakan tempat pemeliharaan dan perawatan lokomotif, Kereta Rel Diesel (KRD), dan kereta genset. Sementara BPTT merupakan tempat pendidikan para calon masinis sebelum ditugaskan untuk menjalankan kereta api. Kunjungan ke dua titik tersebut diharapkan akan memberikan wawasan yang benar mengenai perkeretaapian kepada railfans dan masyarakat luas.
Kunjungan diawali pada Minggu (16/11) di kantor Daop VI di jalan Lempuyangan 1 Yogyakarta dimana puluhan railfans tersebut diterima oleh Corporate Communication Manager Daop VI, Bambang Setiyo Prayitno. Pertemuan diawali dengan diskusi mengenai peran railfans dalam perkembangan perkeretaapian Indonesia. Menurut Bambang, railfans memiliki peran strategis dalam mendukung kemajuan perkeretaapian.

Saturday, 22 November 2014

Memoar 1: Kerajinan Bambu Purworejo

Sebagai daerah dengan lansekap komplet, mulai dari gunung, bukit, dataran rendah hingga pantai, Purworejo memiliki banyak sekali potensi yang bisa dikembangkan. Kekayaan sumber daya alam tersebut sebenarnya sudah diimbangi dengan adanya sumber daya manusia yang mumpuni. Sayangnya, dukungan dari pihak terkait dalam hal ini pemerintah masih belum maksimal...

Tidak hanya terkenal dengan berbagai kulinernya misalnya dawet dan geblek, Purworejo juga memiliki berbagai kerajinan tangan yang berdaya jual tinggi. Satu contohnya adalah kerajinan bambu di wilayah kecamatan Bener.

Wednesday, 19 November 2014

Purworejo dalam Bingkai Pengalaman


Purworejo telah mendapat tempat tersendiri dalam hati saya. Selama dua tahun saya bekerja dan beranjangsana dengan kota yang terletak di barat Yogyakarta ini. Banyak hal menarik dan unik yang saya temui, terkadang hal yang membuat kagum, terkadang pula memberi pelajaran hidup.

Setelah tiga bulan “pelatihan” sebagai wartawan di kota Yogyakarta, pada suatu sore pimpinan memanggil saya dan seorang rekan lainnya. Singkatnya, setelah dirasa mendapat pembekalan yang cukup di kota, maka kami diberi tugas baru di luar kota. Saya ditempatkan di Purworejo, sementara rekan saya ditempatkan di Purwokerto.

Sempat saya protes ke pimpinan, bagaimanapun juga saya merasa belum mendapat pembekalan yang cukup. Lagipula Purworejo terasa asing buat saya yang sejak kecil lebih familiar dengan Klaten-Yogya dan Jakarta. Banyak rekan yang bercerita mengenai Purworejo yang terkenal dengan jalannya yang jelek, medan yang berat, dan sepi tanpa tempat hiburan.

Thursday, 6 November 2014

Membezuk Stasiun Purworejo



Agar tidak merusak kesan klasik, maka jam modern yang ada di stasiun untuk sementara dicopot


Layaknya hubungan pertemanan, ketika ada rekan yang sakit sudah sewajarnya menengok. Demikian pula kawan lama pun tak dilupakan. Apabila ada waktu, ada baiknya berkunjung ke karib yang lama tak berjumpa.

Itulah yang dialami oleh stasiun Purworejo. Sejak mati suri pada November 2010, praktis tak ada kegiatan pemmberhentian maupun pemberangkatan kereta. Stasiun yang bahkan telah dipugar oleh pemiliknya yaitu PT Kereta Api Indonesia sepi meski bangunan berdiri megah menjulang. Sayang memang, tapi mau bagaimana lagi.

Namun, rupanya si cantik yang merana ini tak melulu harus dirundung sepi. Pada awal November 2014 ini mulai terlihat geliat di sekitarnya.

Wednesday, 5 November 2014

Ketika Indonesia dan Belanda Menyatu Kembali dalam Kerjasama Kereta Api

Kepala Unit Pusat Pelestarian, Perawatan dan Desain Arsitektur PT KAI, Ella Ubaidi menjabat tangan Perwakilan Nederland Smallspoor Museum, Gerard de Graaf setelah penandatanganan perjanjian kerjasama untuk saling memerkenalkan museum perkeretaapian di Belanda dan Indonesia. Dok Pri



PT Kereta Api Indonesia (KAI) memiliki banyak peninggalan sejarah yang tersebar di berbagai wilayah. Banyak peninggalan tersebut yang kurang terawat karena tidak dipakai ataupun kurang mendapat perhatian yang memadai dari pengelolanya. padahal, banyak benda dan bangunan peninggalan sejarah tersebut yang memiliki nilai penting.

Tidak hanya mengandung nilai sejarah, banyak benda dan bangunan bersejarah milik PT KAI yang masih difungsikan misalnya stasiun. Lebih dari itu, beberapa lokomotif uap, kereta dan gerbong juga banyak yang masih difungsikan meskipun untuk tujuan wisata.

Memang, pada 2009 lalu PT KAI mulai menunjukkan kepeduliannya pada aset bersejarah yang dimilikinya. Hal itu terlihat dari pembentukan Unit Pusat Pelestarian, Perawatan dan Desain Arsitektur. Tidak hanya menyelamatkan aset bersejarah, unit ini juga mengubah wajah stasiun yang kebanyakan bangunan bersejarah menjadi bangunan yang mendukung upaya PT KAI memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggan.

Mohon bantuan kliknya