Sembari
pesawat perlahan menurunkan ketinggian, bentang alam Jepang yang beragam namun
didominasi alam asri yang menhijau pun menyambut. Mungkin karena Bandara Narita
terletak cukup jauh dari Kota Tokyo, rumah penduduk terlihat tidak terlalu
padat. Bahkan, terdapat ladang dan sawah yang menghijau, yang sesekali terlihat
mengkilat karena adanya rumah kaca maupun ladang yang dilindungi pelindung
plastic. Warna hijau muda berpadu dengan coklat dan keperakan hingga akhirnya
barisan ekor pesawat menandakan pesawat telah hampir mendarat.
Sekitar dua
minggu setelah wawancara visa, saya pun dijadwalkan berangkat. Pergi pertama
kalinya ke negeri yang sama sekali berbeda dari Indonesia tentu memerlukan
persiapan khusus.
Untungnya,
sejak mendapat email konfirmasi sekaligus daftar persyaratan kelengkapan
administasi, pihak kedubes juga menyelipkan beberapa petunjuk keberangkatan.
Dalam dokumen tersebut diberikan gambaran kondisi di Amerika, baju yang
dibutuhkan (termasuk seandainya berangkat di musim dingin), obat-obatan
pribadi, dan petunjuk bila terjadi kondisi darurat misalnya sakit.
Berkas
petunjuk ini juga dicetak dan dibagikan ketika briefing menjelang wawancara
visa. Sejak mendapat berkas itu, persiapan pun dilakukan. Istri saya yang lebih
berpengalaman bepergian membantu semua persiapannya. Mulai membeli batik
(Karena bila tidak mau memakai jas, bisa diganti batik. Baju jenis ini dianggap
baju formal dan bisa menghantikan jas untuk menghadiri pertemuan formal dan semi-formal).
Berikutnya, yang juga penting adalah membeli souvenir. Di Amerika, kami akan
bertemu dan berdiskusi dengan berbagai kalangan. Memberikan souvenir khas
Indonesia tentu akan meninggalkan kesan mendalam dan berkesan.
Dibanding naik kereta api, frekuensi perjalanan saya dengan pesawat bisa dihitung dengan jari. Namun demikian, saya menikmati setiap sisi perjalanan, baik di pesawat maupun kereta api.
Dua moda transportasi ini merupakan favorit saya. Masing-masing memiliki keunikannya tersendiri. Karena alasan kebutuhan, kedekatan jangkauan dan kekuatan finansial saja, kereta api lebih banyak saya ambil.
Pemandangan dari jendela pesawat Boeing 787-900 milik American Airlines ketika berada di Bandara Narita, Tokyo, Jepang. Dok Mikael Rinto
Namun demikian, perjalanan ke Amerika tahun lalu memberikan beberapa gambaran tentang penerbangan, terutama penerbangan internasional. Satu di antaranya adalah video instruksi keselamatan yang biasa ditayangkan sebelum pesawat take off alias tinggal landas.