Hanya satu catatan dari pengamatan saya

Hasil pengamatan seputar kehidupan sehari-hari, jalan-jalan, film, hingga soal sejarah, kereta api dalam dan luar negeri
Showing posts with label Laporan Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Laporan Perjalanan. Show all posts

Monday, 26 October 2020

Di Bawah Gerimis Ibukota Amerika (IVLP 5)

 

Inilah cuaca yang menyambut pagi pertama kami di Ibukota: Gerimis terkadang hujan. Dinginnya? Lumayaaan

Selesai mandi dan berpakaian (Saya memilih kaos, dilapis sweater, dan jaket disimpan di ransel), saya turun ke lobby untuk sarapan. Oh iya, yang perlu diperhatikan, tidak semua hotel yang kami inapi menyediakan sarapan. Namun, Hampton Inn ini menyediakannya, yang tentunya sangat berguna karena kami baru tiba dan masih buta lokasi sekitar. Mencari sarapan bukan perkara besar bila sudah begini.

Sunday, 29 September 2019

Makan Malam Pertama di Amerika (IVLP 4)

Selamat Datang di Washington DC!




Makan malam di Pecinan Washington DC

Lelah dan mengantuk? Sudah pasti. Namun kami tidak ingin membuang waktu. Sesuai urutan keluar, saya di rombongan tengah. 

Rekan satu rombongan IVLP rupanya sudah menunggu di luar gate. Suasana terminal kedatangan di Ronald Reagan National Airport ini terlihat remang. Baru ketika melihat jam, kamipun maklum. Sudah pukul 22.00 di Washington DC. Ada selisih waktu satu jam dengan Chicago sehingga perjalanan yang dua jam terasa jadi tiga jam.

Anggota rombongan selain saya adalah pak Hary, Pak Sofyan, Pak Agus, bang Iman, dan mas Damar. Kami bergegas keluar dari terminal menuju ke tempat pengambilan bagasi.

Namun sebelum kami sampai, baru turun dari eskalator, nampaklah dua sosok pemandu kami: Mbak Kae Kosasih dan mas Izmyr Katoppo! Mereka memandu kami mengambil bagasi, lalu keluar menuju ke mobil eh minibus penjemput. Sopirnya, seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah Arab ramah membantu kami mengangkat koper ke bagasi minibus.

“Be careful, Habibi,” kata mbak Kae ke sopir itu.

Belakangan, kami tahu bahwa Habibi bukanlah nama asli sopir itu. Namun, nama itu dipakai Mbak Kae untuk menyemangati Habibi. Kenapa sebabnya? Sebentar lagi kami rasakan.
Minibus meluncur mulus keluar dari bandara dan mulai memasuki kota yang terlihat basah. Hujan nampaknya baru saja mengguyur. Bangunan tinggi mulai menyambut. Jalanan mulai padat. Kegelapan malam diwarnai dengan taburan lampu dari bangunan tinggi dan kendaraan di jalan.

Tiba di lampu merah, minibus tentu berhenti. Namun ketika lampu hijau, baru beberapa saat Habibi menginjak pedal gas, ia harus menekan pedal rem cukup dalam. Sebabnya, ada mobil yang nyelonong begitu saja. Sontak, penumpang minibus seperti menahan nafas. “Be careful,” kata Mbak Kae lagi.

Tidak sampai setengah jam, kami tiba di hotel kami: Hampton Inn yang terletak di area pusat kota Washington DC. Bangunan tinggi dengan eksterior batu merah sesekali terlihat dari sinar lampu jalanan.
Hotel dilihat dari jendela mobil


Sistem pengamanan hotel yang unik kami rasakan. Udara dingin yang menerpa membuat kami buru-buru masuk sambil menyeret koper masing-masing. Kami masuk melewati pintu hotel yang terdiri dari dua lapis pintu. Apabila ada petugas keamanan, ia akan membukakan pintu. Bila tidak, tamu hotel harus menggunakan kartu yang diberikan untuk membuka dua pintu kaca yang terpisahkan area transit kecil. Area transit ini berfungsi untuk mengeringkan alas kaki ketika di luar hujan.

Di Lobby, Mbak Kae dan Mas Izmyr membagikan berkas IVLP dari map biru. Map inilah yang diterima peserta IVLP dari seluruh dunia. Mapnya sama, yang beda hanya isinya :D Selain map, kami menerima kunci kamar dan password Wifi.

Tempat tidur yang nyaman

Seperti apa sih kamar hotelnya? Secara mendasar, tidak jauh berbeda dengan fasilitas hotel bintang 4 atau 5 di Indonesia. Ada TV, radio sekaligus jam dan alarm, kulkas, microwave, meja kerja, sofa kecil, dan tempat tidurnya yang luas dan nyaman. Yang membedakan adalah mesin AC yang terletak di jendela. “AC” ini bisa dinaikkan suhunya hingga menjadi pemanas ketika cuaca dingin melanda. Dari jendela ini saya juga bisa melihat aktivitas di jalanan kota Washington DC.

 
Fasilitas hotel, nampak AC dan pemanas di belakang tas saya

Makan Malam Pertama di Amerika

Rasa lapar kemudian mendera setelah kami masuk kamar dan menyimpan barang. Diskusi di grup WA membuat kami terpikir untuk mencari makan mengingat makan besar terakhir kami sebelum tiba adalah di penerbangan dengan American Airlines menuju Chicago.

Dasar orang Indonesia, walau di negeri orang, tetap saja nyari nasi! Mbak Kae pun kemudian mengantar kami mencari nasi ke Kawasan Chinatown alias Pecinan. Tidak perlu alat transportasi karena Pecinan hanya terletak sekitar dua blok dari hotel.

Udara dingin menggigit ketika kami berjalan keluar. Namun demikian, mungkin karena malam Minggu, makanya suasana terasa ramai. Banyak orang terutama pejalan kaki memadati trotoar. Kebanyakan mengenakan jaket, mantel atau minimal sweater. 

Pengalaman berjalan kaki di pedestrian DC ini juga memberikan pengalaman berbeda yang akan kami terapkan di kota-kota selanjutnya. Di sini, untuk menyeberang harus cermat melihat tanda pejalan kaki boleh menyeberang yang ditandai dengan lampu gambar orang warna hijau. Meski sudah ada tanda, namun mata juga harus cermat melihat kepadatan lalu lintas karena tidak sedikit persimpangan jalan yang mengizinkan mobil berbelok untuk jalan terus. Salah perhitungan, bisa celaka.

Pedestrian di DC ini juga cukup nyaman sebenarnya bila dinikmati di siang hari. Banyak pepohonan rindang yang menaungi pejalan kaki. Rumah-rumah penduduk sesekali menyelinap dari padatnya bangunan besar fasilitas public misalnya gereja dan sinagoga. Namun karena lapar, kami tak sempat menikmati banyak pemandangan.

Sekitar lima belas menit kemudian kami pun sampai di pecinan. Satu rumah makan menjadi pilihan kami.

Sebenarnya, Mbak Kae sudah makan sore tadi ketika mengantarkan dua anggota rombongan yang sudah terlebih dahulu tiba yakni mas Diki dan Mbah Luh De. Namun, ia tetap bersedia menemani kami. Terima kasih banyak, Mbak Kae!

Restoran yang (Duh, saya lupa Namanya) itu terletak tidak jauh dari persimpangan. Dari jalan, kami masuk melalui pintu utama dan sedikit turun. Tidak banyak pengunjung yang bersantap ketika kami datang. Waitres bertanya pada Mbak Kae tentang jumlah yang akan makan dan mengarahkan ke satu meja di tengah ruangan.

Meja kayu bulat dan kursi yang mengelilinginya jadi perabot utama untuk menunjang aktivitas bersantap para pengunjung. Di tengahnya terdapat berbagai ‘ubo rampe’ makan yakni beragam kecap dan sambal, sendok dan sumpit, juga gelas untuk air putih.
Dari buku menunya, nama-nama makanan cukup familiar untuk lidah Indonesia kami. Ada cap cay, tumis sayuran, hingga kwetiaw. Tanpa membuang waktu, kami memesan makanan yang familiar.

Satu rumus yang harus dipegang bila bepergian di Amerika dengan uang saku dari Indonesia: jangan rupiahkan harga makanannya! Nasi tergolong makanan yang cukup mahal di sini. Untuk makan menu nasi, uang yang harus dikeluarkan antara US$15-20. Nilai yang bisa untuk makan selama dua minggu di Jogja! Bila mau murah, bisa memesan burger di McD, sosis di Subway, atau hotdog.

Chinese food, menu makan malam kami

Perut kenyang, hati senang! Sistem makan di Chinese Food ini juga berbeda. Menu yang dihidangkan biasanya dalam porsi lumayan besar. Satu piring sayuran bisa untuk makan hingga 3 orang. Karena itu, sistemnya adalah total bill dibagi rata. Nah, malam itu saya cukup mengeluarkan US$17 untuk makan dengan berbagai sayur dan lauk. 
Piring saya. Lapar, hehehe


Meski sudah kenyang dan Lelah mendera badan, namun malam itu, cukup susah juga untuk tidur. Namun segelas cokelat susu hangat yang diambil dari area lobby hotel (Ada fasilitas gratis untuk tamu) cukup membantu membuat tubuh rileks. 

Tubuh saya masih merasa kalau itu adalah siang, padahal sudah nyaris tengah malam. Maklum saja, kalau ikut jam, di Indonesia masih tengah hari. Hingga akhirnya, setelah menyalakan alarm dan auto sleep di TV (Isinya siaran berita), saya berhasil tidur… selama lima jam. Pukul 05.30 alarm membangunkan saya dengan suksesnya. Mata terasa luar bisa berat, badan apalagi! Namun, agenda di hari Minggu sudah menanti: jalan-jalan di DC!
 

Pagi Pertama di Amerika dan Gegar Budaya di Toilet

Rutinitas pagipun dimulai. Namun masuk ke toilet, gegar budaya terjadi lagi. Saya teringat betul pesan seorang sahabat saya, Pak Martin Johnson yang merupakan warga Amerika asli. Sebelum berangkat saya bertanya banyak hal kepadanya tentang kehidupan di Amerika. Satu hal yang menjadi catatannya adalah soal toilet. Kamar mandi dan toilet di Amerika menganut prinsip kering. Jadi, tidak ada saluran pembuangan bawah. Kalau lantai basah, akan sangat susah keringnya!

Informasi itu saya jaga betul karena tidak mau ribet di kamar mandi. Saya akan tinggal di kamar ini selama sepekan ke depan. Mandi bisa dilakukan di bath tube sambil menutup tirai agar air tidak kemana-mana.

Soal sabun, sebenarnya pihak hotel sudah menyediakan cukup lengkap, mulai dari sampo, sabun badan, pasta gigi hingga deodorant. Namun demikian, saya yang kadang alergi dengan bahan tertentu memilih membawa sabun dari Indonesia. Sabun, sampo, sabun muka dikemas dalam botol tertentu agar mudah dibawa dan tidak mudah tumpah. Botol ini saya beli dari toko perlengkapan travelling, lengkap dengan tasnya yang tahan air.

Nah, yang paling vital adalah soal buang air besar. Kloset di sini tidak memiliki penyiram berupa selang untuk membersihkan diri setelah menuntaskan hajat. Karena, kebiasaan orang Amerika adalah memakai tisu untuk mengelap dan membersihkan. Buat orang Indonesia, ini adalah masalah besar. Membersihkan diri setelah buang air besar tak akan terasa bersih tanpa air. Solusinya sederhana: gelas kertas.

Hotel memang menyediakan gelas kertas di kamar, berdampingan dengan kopi dan teh bila tamu ingin minuman hangat di kamar. Ada tiga gelas kertas yang disediakan. Dua gelas saya simpan di kamar mandi, difungsikan sebagai gayung untuk membersihkan diri!

 

Thursday, 5 September 2019

Transit di Narita dan Sebelas Jam Terbang ke Amerika (IVLP 3)


Jepang pada Pandangan Pertama


Sembari pesawat perlahan menurunkan ketinggian, bentang alam Jepang yang beragam namun didominasi alam asri yang menhijau pun menyambut. Mungkin karena Bandara Narita terletak cukup jauh dari Kota Tokyo, rumah penduduk terlihat tidak terlalu padat. Bahkan, terdapat ladang dan sawah yang menghijau, yang sesekali terlihat mengkilat karena adanya rumah kaca maupun ladang yang dilindungi pelindung plastic. Warna hijau muda berpadu dengan coklat dan keperakan hingga akhirnya barisan ekor pesawat menandakan pesawat telah hampir mendarat.

Friday, 10 August 2018

Cerita Teh: Berkunjung ke Ndoro Dongker

Segelas teh panas sambil menikmati perkebunan di Ndoro Dongker. Dok pri
Cerita dari Rumah Teh Ndoro Dongker di Karanganyar

Tiada yang lebih segar dibandingkan menyeruput es teh manis di hari yang panas, atau menyesap teh manis hangat di hari yang dingin. Apapun bentuknya, yang jelas teh telah menjadi minuman favorit saya sejak lama.

Tuesday, 31 July 2018

Sejarah Stasiun Maguwo

Stasiun Maguwo, Stasiun Kecil Kaya Sejarah
Kereta api Prambanan Ekspres melintas depan stasiun Maguwo Lama. Dok pri


Stasiun Maguwo merupakan satu stasiun modern yang letaknya persis berhadapan dengan Bandara Internasional Adisucipto di Yogyakarta. Stasiun yang terletak di antara stasiun Lempuyangan dan Brambanan ini menjadi contoh penting integrasi antar moda dimana moda transportasi pesawat bertemu dengan kereta api dan layanan bus Trans Jogja.

Sunday, 17 December 2017

Aksi Perdana Railclinic di Purworejo

Armada Railclinic yang terparkir di jalur 1 stasiun Wojo dipenuhi oleh masyarakat yang ingin berobat, Sabtu (19/12). Setelah dibuat dan diluncurkan, armada kesehatan pertama di Indonesia milik PT KAI yakni Railclinic akhirnya dioperasikan. Stasiun Wojo di Purworejo mendapat kesempatan perdana menikmati layanan ini.
Setelah dipersiapkan dan kemudian diluncurkan pada awal Desember 2015, akhirnya armada kereta api (KA) Kesehatan "Railclinic" dioperasikan. Aksi perdana kereta yang dikhususkan untuk kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) PT Kereta Api Indonesia (KAI) ini digelar di stasiun Wojo, Sabtu (19/12/2015).

Ratusan warga yang telah mendapatkan informasi sejak beberapa hari kemudian berjubel memadati stasiun yang terletak di desa Dadirejo kecamatan Bagelen, Purworejo, sejak pagi. Tenda dan kursi yang disediakan panitia pun berangsur penuh.


Tuesday, 21 November 2017

Mengunjungi 24 Stasiun di Wilayah Kerja PT KAI Daop 6 Yogyakarta

Perpisahan yang Mengesankan
Meski kejadian di tulisan ini telah lama berlalu, namun tak pelak, tetap meninggalkan kesan di hati sebagian pecinta kereta api alias railfans di Yogyakarta. Karena itu, tidak ada salahnya menikmati kenangan luar biasa ketika pecinta kereta api merasakan keramahan dan kekeluargaan dari para pimpinan operator kereta api.
Inilah kisah berkesan itu...

Meski telah dilantik sebagai Executive Vice President (EVP) PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 8 Surabaya, namun Wiwik Widayanti ingin meninggalkan jejak positif di tempat kerjanya yang lama. Ia yang selama setahun sebelumnya menjabat sebagai EVP Daop 6 Yogyakarta berpamitan kepada segenap jajarannya. Bukan sembarang pamitan, Wiwik mengunjungi seluruh stasiun aktif di Daop 6.
Pada Sabtu (17/10/2015) pagi, stasiun Tugu Yogyakarta terlihat ramai oleh penumpang baik penumpang KA jarak jauh maupun lokal. Menjelang pukul 07.00, satu rangkaian kereta rel diesel (KRD) jenis MCW302 meluncur pelan dari timur memasuki jalur 4. Anehnya, tidak ada penumpang yang bersiap naik. Justru, puluhan pegawai PT KAI Daop 6 yang menunggu dan bersiap naik, ditambah beberapa pecinta kereta api dari Yogyakarta dan Solo.

Saturday, 4 November 2017

Jalan Raya Pos di Mata Fotografer Belanda

Eric Kampherbeek, seorang warga negara Belanda berdarah Jawa memberikan ulasan mengenai hasil penelusurannya bersepeda di Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan di Ruang MES 56, Jalan Mangkuyudan nomor 53 A Yogyakarta, Kamis (15/10) petang.

Tujuh puluh tahun sudah Indonesia meraih kemerdekaan dan lepas dari kolonialisme Belanda. Namun, sejumlah peninggalan Belanda mulai dari bangunan hingga infrastruktur lainnya sebagian masih digunakan sampai sekarang. Satu contohnya adalah jalan raya pos atau jalan Daendels yang membentang sejauh 1000 km dari Anyer hingga Panarukan.
Sejak awal pembangunannya hingga saat ini, jalan raya ini menempati posisi vital dalam geliat perekonomian di Indonesia. Sebagian jalur yang kemudian menjadi jalur pantai utara Jawa (Pantura) lekat dengan aktivitas angkutan orang dan barang. Di sebagian ruas jalan, jejak-jejak peninggalan Belanda masih terasa; mulai dari bangunan, tata kota, hingga karakter masyarakat yang sedikit banyak terpengaruh keberadaan jalan ini.
Apabila masyarakat Indonesia melihat jalan raya Pos tersebut sebagai prasarana vital, menarik untuk melihat jalan tersebut dari sudut pandang orang Belanda. Satu contohnya adalah Eric Kampherbeek, seorang warga negara Belanda berdarah Jawa yang memberikan perhatian khusus untuk jalan yang dibangun pada 1808 ini.
Menggunakan sepeda, Eric yang merupakan seorang fotografer dokumenter dan visual storyteller dari Den Haag, Belanda mencoba menyusuri jalan ini dari ujung ke ujung. Total, selama dua bulan ia sukses mendokumentasikan apa yang terjadi di sepanjang jalan.

Tuesday, 24 October 2017

Stasiun Bantul yang Terlupakan




Setelah dari Stasiun Winongo, jalur KA mengarah ke selatan namun agak menyerong menuju ke Jalan Bantul lalu terus ke selatan dengan posisi di tepi barat ruas jalan. Menuju ke selatan, jalur KA ini kemudian berpotongan dengan jalur lori PG Madukismo tepat di simpang empat Kasongan. Bahkan, rel perpotongan masih tersisa dan diletakkan di sebelah barat pos polisi. Jalur lori sendiri masih bisa terlihat di sisi timur simpang empat dimana ada sisi jalan yang menonjol dan rel lori sesekali menyembul dari aspal.

Setelah dari simpang empat Kasongan, jalur KA terus menuju ke selatan memasuki ibukota kabupaten Bantul. Sebelum ke Bantul, sebetulnya di dekat simpang tiga jalan Cepit-Tembi terdapat halte. Namun, halte tersebut hilang tak berbekas.

Wednesday, 11 October 2017

Nostalgia Jalur Kereta Api Yogya-Bantul (1)




Kunjungan Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi pada akhir 2016 lalu di trase jalan rel Yogya-Magelang menguak nostalgia di dunia perkeretaapian. Tak hanya penting untuk angkutan KA lintas selatan saat ini, Yogyakarta juga pernah menjadi kota yang banyak punya jalur KA. Selain jalur KA utama lintas Solo-Kroya, Yogya juga memiliki jalur ke Bantul berlanjut ke Sewugalur dan ke Magelang. Sayangnya, dua lintas tersebut telah dinonaktifkan karena berbagai alasan.

Yogyakarta sebagai wilayah dengan potensi wisata dan pendidikan yang terus berkembang tentunya memerlukan moda tranportasi penunjang yang mumpuni. Kondisi jalan raya yang semakin padat membuat pemerintah sudah waktunya mulai mengembangkan transportasi umum misalnya kereta api.

Dalam hal perkeretaapian, Yogyakarta sendiri bukan kota yang asing dengan transportasi berbasis rel ini. Tercatat, ada banyak jalur percabangan yang berangkat maupun menuju Yogyakarta antara lain jalur Yogya-Magelang, Yogya-Pundong, dan Yogya-Palbapang-Sewugalur.


Monday, 22 June 2015

Amboy… Indahnya Kota Ambon! (1)


Antara Argo Wilis dan Garuda Indonesia


Meskipun ketika kecil saya pernah tinggal di Kalimantan (yang notabene Indonesia tengah), sedikit sekali pengalaman saya dengan bagian lain Indonesia. Tentunya selain pulau Jawa.


Namun beberapa waktu yang lalu, kesempatan untuk menikmati luasnya Indonesia pun datang. Pada 2013 saya berkesempatan menikmati keindahan Sumatra (inilah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di pulau Andalas) melalui kunjungan ke kota Palembang di Sumatra Selatan. Walau hanya sehari, namun kunjungan itu menimbulkan kesan tersendiri untuk saya.


Kesempatan yang kedua datang pada akhir 2014 ketika saya berkesempatan mengunjungi kota Ambon di Maluku. Sungguh, tak terbayangkan ketika saya akhirnya bisa menginjakkan kaki di Ambon Manise. Sejak saya sekolah hingga kuliah, bahkan bekerja, saya memang beberapa kali bertemu dengan orang Ambon. Kesan yang saya dapat mereka kebanyakan ramah dan pandai bernyanyi (karena suara mereka kebanyakan bagus). Namun, belum ada bayangan waktu itu mengenai tanah asal teman-teman saya itu. Hingga akhirnya, pada 30 Desember 2014 saya mendapat kesempatan itu.

Thursday, 19 February 2015

Uniknya Kotagede Night Tour

Melihat Kotaraja di Malam Hari

Sebagai bekas Ibukota Kerajaan Mataram, Kotagede menyimpan banyak peninggalan bersejarah selain pesona kerajinan peraknya. Berbagai situs peninggalan sejarah masa lalu bertebaran di daerah ini.
Para peserta Kotagede Night Tour sedang mengikuti rute tour. Dok Massatrust




Berbagai cara pun bisa ditempuh untuk menikmati dan mengagumi pesona lampau tersebut. Selain tur umum yang banyak ditawarkan agen perjalanan wisata pada umumnya, banyak cara lain yang bisa ditempuh.

Keindahan dan pesona Kotagede tergambar pada  jalan-jalan sempit, dengan toko-toko perak tradisional dan rumah berubin mosaik berjajar di tepi jalan. Kota ini juga dipenuhi bangunan kuno yang merupakan rumah pedagang Arab dan Belanda. Sementara itu, masyarakat Kotagede hidup dalam nuansa kehidupan masyarakat Jawa yang masih kental.

Tidak hanya menawarkan eksotisme obyek wisata, namun melongok lebih jauh ke dalam jantung kehidupan masyarakatnya. Itulah yang ditawarkan oleh Kotagede Night Tour.

Berbeda dengan tur pada umumnya yang dilakukan pada pagi atau siang hari, tour ini dilakukan pada sore atau malam hari. Tujuannya, melihat sisi lain Kotagede yang selama ini nyaris tak tersentuh turis.

Saturday, 13 December 2014

Memoar 14: Jelajah Jalur KA Purworejo-Kutoarjo


Railfans Yogya Jelajahi Jalur Non Aktif Purworejo-Kutoarjo

Tidak sekedar menyukai untuk diri sendiri, namun juga memberikan bukti nyata. Itulah kiranya yang bisa dikatakan untuk menggambarkan aktivitas pecinta kereta api dari Yogyakarta yang tergabung dari Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) dan Railfans Yogyakarta (RF YK). Pada Minggu (16/9/2012), mereka melakukan penjelajahan jalur non aktif Purworejo-Kutoarjo sepanjang sekitar 12 kilometer tersebut.
Tim penjelajah dari IRPS dan RF YK sedang menelusuri bekas halte Batoh. Tampak di belakang jalur rel tertutup rerumputan sehingga terkesan hilang. Dok Pri

Berangkat dari kota Yogya secara terpisah, sekitar 12 orang pecinta kereta api yang identik dengan sebutan Railfans ini berkumpul di stasiun Purworejo sekitar pukul 10.00. Setelah berdiskusi di kompleks stasiun dan melakukan pengamatan, sekitar pukul 11.00 penjelajahan dilakukan dengan sepeda motor menuju Kutoarjo. Di sepanjang perjalanan, banyak hal menarik ditemukan.

Thursday, 11 December 2014

Laporan Perjalanan Uji Coba Kedua Railbus Bathara Kresna

Ketika Stasiun Wonogiri Berbenah Diri
Railbus Bathara Kresna stand by di jalur 1 Stasiun Pruwosari sebelum diberangkatkan ke Wonogiri. Dok Pri

Kalau tidak salah, sudah hampir empat tahun jalur kereta api Purwosari (Solo) ke Wonogiri tidak aktif. Sebelumnya, selama beberapa tahun jalur ini dirayapi KA Feeder Bengawan. Banyak kenangan unik penulis di jalur tersebut.

Pada Kamis (4/12/2014) kesempatan untuk menengok jalur ini pun datang kembali. PT Kereta Api Indonesia (KAI) bersama pemerintah daerah di sepanjang jalur mengadakan ujicoba Railbus Bathara Kresna. Sebetulnya ini bukan ujicoba yang pertama kali. Beberapa kali jalur ini dicoba baik menggunakan Railbus maupun KRDH Prameks. Bahkan seminggu sebelumnya juga ada ujicoba menggunakan railbus. Namun waktu itu saya tidak dapat ikut karena informasi yang mendadak dan sudah ada jadwal acara.

Mohon bantuan kliknya