Hanya satu catatan dari pengamatan saya

Hasil pengamatan seputar kehidupan sehari-hari, jalan-jalan, film, hingga soal sejarah, kereta api dalam dan luar negeri

Monday 26 October 2020

Di Bawah Gerimis Ibukota Amerika (IVLP 5)

 

Inilah cuaca yang menyambut pagi pertama kami di Ibukota: Gerimis terkadang hujan. Dinginnya? Lumayaaan

Selesai mandi dan berpakaian (Saya memilih kaos, dilapis sweater, dan jaket disimpan di ransel), saya turun ke lobby untuk sarapan. Oh iya, yang perlu diperhatikan, tidak semua hotel yang kami inapi menyediakan sarapan. Namun, Hampton Inn ini menyediakannya, yang tentunya sangat berguna karena kami baru tiba dan masih buta lokasi sekitar. Mencari sarapan bukan perkara besar bila sudah begini.

Menu sarapan semacam ini yang rutin kami temui setiap pagi. Wadah sekali pakai memudahkan pelayanan yang self service

 

Menu sarapan ala Amerika pun dihidangkan. Jangan berharap mencari nasi di sini. Sebagai gantinya, ada kentang tumbuk alias mashed potatoes, juga kentang panggang yang dipotong dadu. Sebagai lauk, saya memilih sosis sapi, yang diberi sambal. Ada pula roti dan waffle kalau mau sedikit ribet memanggang. Minumannya terdiri dari air putih, teh celup, susu, dan jus buah. Sebagai pencuci mulut ada beragam buah yang disediakan.

Sarapan pagi itu sekaligus menandai proses pembiasaan perut untuk tidak selalu mencari nasi. Tentunya, lumayan berat bila setiap makan harus nasi mengingat harganya. Beberapa rekan mengandalkan buah untuk membuat perut terasa kenyang. Selain sehat, juga mudah didapatkan.

Yang tidak kalah penting, sarapan juga membuat kami terbiasa dengan self-service alias layanan mandiri. Kami harus mengambil piring dan sendok plastic sendiri. Juga gelas kertas. Selesai makan, bila tidak habis sisa makanan harus dibuang di tempat sampah dan alat makan kotor (yang akan didaur ulang) diletakkan di tempat yang disediakan; biasanya di samping tempat sampah.

Pemandangan kota Washington DC: gedung-gedung besar dengan desain klasik yang khas

 

Sambil menikmati sarapan, saya yang memilih tempat di dekat jendela bisa menikmati pemandangan luar. Pagi itu, gerimis mengguyur Washington DC. Rencana bubar? Tidak juga. Mbak Kae dan Mas Izmyr telah berkoordinasi dengan Habibi untuk membawa kami ke tempat yang sebagian besar tidak terlalu menuntut aktivitas luar ruangan.

Beberapa rekan menyusul sarapan. Wajah-wajah pucat dengan kantong mata dan mata yang agak memerah terlihat. Ah, rupanya tidak hanya saya yang masih berjuang untuk mengatur jam tidur.

Di tengah kesibukan makan, muncullah seorang pemuda berambut pirang dengan senyum yang ramah. Bryan, demikian nama pemuda itu, diperkenalkan oleh Mbak Kae sebagai pemandu kami pagi itu. Sebagai penduduk asli DC, Bryan akan menjelaskan tentang berbagai tempat yang akan kami kunjungi hari itu.

Juga, seorang admin alias pemandu ketiga kami juga hadir: Om Jack Kussoy. Om Jack baru hadir di hari pertama agenda hari ini karena akhir pekan lalu masih ada kesibukan. Nah, jadilah kami punya dua penerjemah dan seorang admin yang bertugas merancang dan mengatur agenda kami ke depan.

Gerimis masih mengguyur, bahkan bertambah lebat ketika kami berjalan dari hotel ke minibus. Namun demikian, suasana dalam mobil terasa hangat. Kami duduk rapi, melihat ke Bryan yang berdiri dan menjelaskan berbagai lokasi yang kami lewati. Ada Gedung Federal Bureau Investigation (FBI), museum sejarah Orang Kulit Hitam, Museum Orang Indian, hingga National Mall. Dan akhirnya, kami menyempatkan diri berhenti di jalan depan Gedung Putih, ikon utama DC. Hujan mengguyur demikian deras sehingga kami hanya bisa berhenti dan menatap bangunan kantor Presiden AS itu dari kejauhan. Biasanya, peserta IVLP berusaha agar bisa berfoto di sana. Namun yah, kami belum cukup beruntung untuk berfoto Bersama kediaman Presiden Trump itu.

Hanya bisa memandangi Gedung Putih dari balik jendela mobil yang berembun

 

Di sepanjang berjalanan, di balik jendela kaca mobil yang berembun, rombongan melihat gedung-gedung tinggi yang langgamnya memiliki kemiripan satu dengan yang lainnya berupa pola arsitektur Yunani dengan pilar besar dan bangunan dari batu. Tak aneh memang bila mengingat bahwa para tokoh pendiri negara ini utamanya George Washington adalah pengagum arsitektur kuno khususnya Mesir dan Yunani. 

 

The Willard Hotel, Mengenal Kata ‘Lobby’

Perjalanan berlanjut dan kami menuju perhentian pertama kami: The Willard Hotel. Kenapa Hotel? Jangan salah, ini bukanlah hotel sembarangan. Berbagai plakat perannya dalam sejarah dipasang di dinding tidak jauh dari pintu utama. Bryan mengajak kami masuk dan berkumpul di Lobby.

Nah, lobby ini menjadi topik bahasan pertama yang disampaikan Bryan. Selain menjadi kata benda berupa nama tempat, lobi juga bisa berarti tindakan, misalnya lobi politik, atau lobbying. Konon, ungkap Bryan, istilah lobi ini pertama kali tercetus ketika Presiden AS ke-18, Ulysses S Grant suka nongkrong di lobby Hotel Willard ini. Di waktu senggangnya itu ia menghabiskan waktu sambil menghisap cerutu favorit serta menikmati whisky. Momen bersantai ini kemudian menjadi peluang untuk beberapa pihak mendekati presiden dan menyampaikan maksudnya. Nah, konon, dari sinilah istilah lobbying kemudian dikenal lalu menyebar. Entah benar atau tidak, yang jelas, cerita semacam ini cukup mewarnai kehadiran tempat-tempat bersejarah.

Pemandu kami, Bryan sedang menjelaskan kisah asal mula kata lobby di lobby The Willard

 

Meski Willard masih menjadi hotel komersial (Dengan tarif yang mungkin lumayan berat), namun pengelola hotel nampaknya memberi kesempatan pengunjung yang hanya menikmati suasana seperti kami. 

Interior Willard memang luar biasa indah, penuh dengan ornament klasik dan bercorak sejarah Amerika.

 

Berfoto dulu depan karya John Gable

Dari Lobby, kami menuju ke koridor dimana terdapat beberapa ruangan pertemuan. Di Lorong itu terdapat beberapa lukisan para pengunjung hotel. Satu yang sempat saya potret adalah lukisan Alice Roosevelt Longworth karya seniman John Gable.

Puas menikmati keindahan The Willard, kami berlanjut ke destinasi selanjutnya.

 

US Capitol dan Patung Columbia yang Selalu Menatap ke Timur

Capitol Building atau yang memiliki nama resmi United States Capitol. Gedung ini merupakan tempat berkantornya anggota Kongres Amerika Serikat yang terdiri dari House of Representative atau The House (DPR) yang mewakili 50 negara bagian (Masing-masing negara bagian diwakili sesuai jumlah penduduknya) dan Senate (DPD) yang terdiri dari dua perwakilan dari setiap negara bagian.

 Gedung yang selesai dibangun pada 1800 ini terdiri dari tiga bagian bangunan utama yakni sayap selatan untuk The House, sayap utara untuk Senate dan bagian tengah untuk menerima tamu. 

Bangunan bergaya neo klasikal ini memiliki bagian yang paling menarik perhatian yakni kubahnya yang menjulang tinggi.

Columbia di puncak kubah Capitol yang selalu menatap ke timur

 

Ada satu patung di puncak kubah Capitol ini. Bryan menjelaskan, sosok patung ini sering disebut Columbia walau aslinya bernama Statue of Freedom alias patung kebebasan. "Columbia berdiri di puncak kubah dan menghadap ke timur dengan filosofi selalu menyongsong hari yang baru,” jelas Bryan.

Sayangnya, karena berkunjung di hari Minggu dan tanpa persiapan khusus, maka kami tidak bisa masuk. Padahal, di Capitol ini ada Visitor Center dimana wisatawan bisa melihat sejarah Capitol dan perjalanan lembaga legislatif di Amerika Serikat. Namun, dalam pekan itu juga kami akan berkunjung.

Di bawah gerimis yang mengguyur Capitol, rombongan berfoto. Dok Kae Kosasih

 

Gerimis masih mengguyur, namun tak lagi terlalu pekat sehingga kami bisa berjalan di halaman Capitol Building. Nampak dari halaman Capitol, bangunan national monument yang menjulang. Pemandangan ini biasa saya lihat di game pertempuran maupun film-film berbasis militer Amerika. Bangunan berupa obelisk raksasa ini memang salah satu ikon Amerika.

Dalam kesempatan ini, saya yang membawa baju khas Jawa yakni blangkon dan surjan. Tak lupa saya berfoto sambil memakai baju itu.

Wong Jowo kesasar ndek DC :D

 

 

Mengenang Presiden Pembebas Perbudakan

Perjalanan kemudian berlanjut ke Lincoln Memorial, satu monumen untuk mengenang karya dan jasa Presiden ke-16 AS, Abraham Lincoln. 

Perjalanan menuju kesana juga unik.

 Minibus kami melewati berbagai tempat bersejarah misalnya Washington Monument yang sekilas mirip Monas namun tanpa emas di puncaknya.

 

Washington Monumen yang seperti Monas tanpa emas. Foto diambil beberapa hari setelah tour keliling DC, dan tentunya dalam cuaca cerah

Hujan bertambah deras ketika kami tiba. Namun ternyata, hujan tak menghalangi niat ratusan wisatawan untuk mengunjungi Lincoln Memorial. Dalam kondisi ini saya cukup menyesal tak membawa payung padahal dalam ramalan cuaca sebelum berangkat diprediksi Washington akan sering diguyur hujan. Pelindung badan dari guyuran air hanyalah blangkon dan jaket tahan air.

Lincoln Memorial yang cukup ramai meski cuaca sedang tak ramah

 

Sambil berlari-lari kecil, kami akhirnya tiba di halaman dan bersiap naik, meniti ratusan anak tangga dari batu. 

Tidak diperlukan tiket untuk masuk. 

Dalam kondisi basah, kami tentu harus ekstra hati-hati. Hingga akhirnya, saya dan Bryan (yang pertama dari rombongan) tiba di depan patung Abraham Lincoln. Patung setinggi sekitar 5,8 meter itu menatap setiap pengunjung yang datang. 

Saya dan Pak Diki berfoto bersama

 

Patung Lincoln ini ada di tengah ruangan panjang. Di sisi kirinya adalah ruangan dimana terdapat pidato Lincon di pelantikan periode keduanya sebagai presiden AS sementara di sisi kanan adalah pidatonya ketika berada di Gettysburg, sebelum pertempuran yang menentukan jalannya Perang Sipil Amerika.

Bryan menjelaskan, patung yang dirancang oleh Daniel Chester French dan dipahat oleh Pricirilli Brothers ini memiliki mitosnya tersendiri. Ia kemudian mengajak kami mendekati patung sang presiden yang duduk di kursi dengan baju kebesarannya itu. Bryan kemudian menunjuk bagian belakang kepala Lincoln.

Bagian belakang kepala patung Abe. Bisakah Anda melihat wajah Lee?

 

"Bila diperhatikan baik-baik, seperti ada pahatan wajah orang. Banyak yang bilang itu adalah Robert E Lee, komandan pasukan Konfederasi dalam perang Sipil. Lee memang seakan menjadi rival Lincoln dan menjadi duri dalam daging dalam pemerintahan Lincoln,” katanya.

Konon, wajah Lee yang "terpahat" di belakang kepala Lincoln seperti menatap rumahnya di Arlington, di seberang sungai Potomac. 

Namanya juga kisah, bisa dipercaya, tidak juga tak apa. 

Yang jelas, hal-hal semacam ini menjadi semacam bumbu menarik akan keberadaan suatu tempat. Wisatawan memang kebanyakan cenderung tertarik pada kisah-kisah kecil nan menggelitik seperti ini.

Gerimis berubah menjadi hujan yang lumayan deras. Wisatawan semakin memadati area dalam ruangan yang bergaya Yunani itu. Seorang rekan kami, Mas Damar rupannya sudah menyempatkan diri ke toko souvenir dan membeli topi ala era Lincoln memerintah. Topi yang agak Panjang itu langsung dipakainya. Wah, jadi semakin unik. Saya pakai blangkon dan surjan, mas Damar pakai topi ala Lincoln!

Hujan tak menyurutkan semangat kami berfoto lagi. Halaman depan Lincoln Memorial jadi tempatnya. Namun kali ini kami menjadikan Washington Monument sebagai latarnya. Seorang turis yang ramah membantu kami berfoto sehingga seluruh anggota rombongan pun terekam.

Kami berfoto menghadap Lincoln Memorial dengan latar belakang Washington Monument

 

 

Monumen Perang Vietnam Perbedaan Sudut Pandang Masyarakat AS

Tak perlu menghabiskan waktu lama untuk melanjutkan ke sasaran kunjungan berikutnya. 

Di dekat Lincoln Memorial terdapat taman besar dengan semacam bukit kecil yang berdinding batu hitam. Dinding itu bukan dinding sembarangan. Sebab, ia merupakan bagian dari monument Perang Vietnam, satu perang yang masih menjadi perdebatan di kalangan masyarakat Amerika sendiri.

Monumen Perang Vietnam

 

Hal ini membuat saya pribadi cukup heran. Amerika tak hanya mencatat sejarah kegemilangan negeri dengan prestasi dan tinta emas dalam sejarah, namun juga catatan kejadian yang cukup merugikan. Dalam perang Vietnam memang Amerika mengalami banyak kerugian, terutama hilangnya warga Amerika di medan tempur.

Dinding hitam sepanjang sekitar 75 meter tersebut menjadi catatan abadi tentang hilangnya 53.318 jiwa, baik yang sudah ditemukan maupun belum tentu rimbanya. 

Bryan menjelaskan, dinding ini juga memiliki para penjaga atau petugas informasi. Tidak sembarangan, mereka adalah kerabat atau keluarga para korban. Bahkan dalam cuaca hujan nan dingin seperti ini, seorang perempuan yang mungkin berumur 60 tahun lebih nampak berdiri di depan dinding. Ketika ada pengunjung yang bertanya tentang dinding itu, ia memberikan penjelasan.

Relawan penjaga monumen, yang tetap setia berjaga di bawah hawa dingin dan guyuran hujan

 

Bryan mengungkapkan, dinding ini juga mewakili kondisi yang terjadi di masyarakat Amerika saat perang terjadi. Dari sisi utara, dinding ini tidak terlihat karena berada di posisi agak bawah, sementara dari sisi selatan, terlihat jelas. Maknanya, ada masyarakat yang berpikir bahwa perang ini tidak terlihat, atau dampaknya tidak terasa langsung. Namun bagi keluarga yang terlibat, dampaknya luar biasa.

Fakta yang sama bila dilihat dari sudut pandang berbeda memang bisa menghasilkan pendapat yang berbeda. Namun yang jelas, adanya monument ini membuat kita berpikir bahwa sejarah sebaiknya tak hanya mencatat prestasi semata, namun pelajaran berharga darinya juga patut diabadikan untuk diambil hikmahnya. Dengan demikian, generasi yang akan datang diharapkan tidak akan mengulangi kesalahan para pendahulunya.

Nama-nama korban perang Vietnam yang diukir di dinding

 

Hujan yang semakin deras membuat kami harus mengakhiri tur hari itu dan mencari makan siang. Bryan pun mengucapkan salam perpisahan.

Sebenarnya, setelah makan siang di restoran Vietnam itu, secara formal acara yang dijadwalkan sudah selesai. Namun saya dan beberapa rekan lainnya masih belum puas menjelajahi Washington DC yang memiliki banyak sekali museum yang unik dan gratis. Karenanya, setelah kembali ke hotel, sementara beberapa rekan mengajak mengurus kartu SIM untuk smartphone agar lancar berkomunikasi, kami juga berencana melanjutkan jalan-jalan.

Mengurus SIM untuk smartphone, tak semudah kelihatannya

 

Mengurus kartu SIM ternyata tak semudah kelihatannya. Smartphone beberapa rekan sukses terpasang kartu SIM operator Amerika dengan biata sekitar US$40 untuk satu bulan. Sementara smartphone saya, mungkin karena merk yang kebanyakan dipakai di regional Asia, tidak terdeteksi oleh system operator di sana. Terpaksa saya untuk sementara nebeng ke Bang Iman yang membawa pemancar WiFi portable.

No comments:

Post a Comment

Mohon bantuan kliknya