Hanya satu catatan dari pengamatan saya

Hasil pengamatan seputar kehidupan sehari-hari, jalan-jalan, film, hingga soal sejarah, kereta api dalam dan luar negeri

Monday 3 November 2014

Suatu Ketika...Indonesia Lebih Hebat dari Eropa


Menengok Sejarah Keberadaan Kereta Listrik di Indonesia

Ketika melakukan kunjungan ke Yogyakarta beberapa waktu yang lalu, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Ignasius Jonan mengatakan pihaknya siap menyediakan Kereta Api Listrik (KRL) untuk melayani kebutuhan para penglaju di Yogya dan Solo. Hal itu didorong tingginya peminat kereta api lokal (komuter) di wilayah Daop 6 Yogyakarta.

Hal ini tak pelak memberi harapan baru untuk para penglaju di kawasan Yogya dan Solo. Semakin macetnya jalanan karena kepadatan kendaraan dan keterbatasan pertumbuhan jalan membuat berkendara tak lagi menyenangkan. Solusinya, jelas transportasi umum yang aman, nyaman dan murah. Satu dari beberapa jawabannya adalah KRL yang dianggap lebih ekonomis dan berdaya angkut lebih besar.

Sebelum wacana ini bergulir lebih jauh, tak ada salahnya menengok sejarah keberadaan KRL di Indonesia. Sejak awal hingga saat ini, KRL memang baru bisa dijumpai di wilayah Jabodetabek. KRL telah menjadi satu dari beberapa tulang punggung transportasi di kawasan ibukota. Namun, ternyata proses pembangunannya tak semulus yang dikira.

Hal tersebut mengemuka dalam Sejarah Elektifikasi Jalur Kereta Api Lintas Jakarta Kota hingga Bogor yang diadakan oleh Komunitas Sejarah Perkeretaapian Indonesia (KSPI) pada Sabtu (16/8) di Hall Stasiun Jakarta Kota. Bekerja sama dengan Unit Pusat Pelestarian, Perawatan dan Desain Arsitektur PT KAI, acara ini dihadiri oleh ratusan peserta dan beberapa tokoh. Nampak hadir, kepala Unit Pusat Pelestarian, Ella Ubaidi, pakar transportasi Djoko Setijowarno dan beberapa tokoh lainnya.
Unit Pusat Pelestarian, Perawatan dan Desain Arsitektur PT KAI Ella Ubaidi (kanan) menerima kenang-kenangan dari ketua KSPI Ir Widoyoko


KSPI merupakan organisasi pecinta KA yang dibentuk oleh Ir Widoyoko dan beberapa rekan pada 2009 untuk merespon pembentukan unit Heritage oleh PT KAI. Tujuan dibentuknya KSPI antara lain untuk mendukung unit Heritage tersebut. Organisasi ini telah menghasilkan beberapa buku mengenai kereta api, berbagai presentasi sejarah dan MoU dengan beberapa pihak satu di antaranya unit Heritage PT KAI.

Ketua KSPI, Ir Widoyoko yang bertindak sebagai pemateri mengatakan, keberadaan KRL sungguh unik. Selain prosesnya panjang dan memerlukan perjuangan dari pakar yang terlibat di dalamnya, prestasi yang ditorehkan juga tidak main-main. Keberadaan KRL yang waktu itu menjadi proyek ujicoba pemerintah kolonial di tanah jajahan sempat mengalahkan transportasi di negeri Belanda sendiri.

"Kenapa harus elektrifikasi? Itu pertanyaan besarnya. Kondisi saat itu, pengembangan teknologi kereta listrik di Eropa sendiri belum sempurna. Contohnya di Swiss, teknologi ini mendapat tentangan dari orang kereta api uap. Mereka merasa terganggu dengan perkembangan teknologi ini," jelasnya.

Teknologi kereta listrik ini tak lepas dari pantauan para pakar di Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) sekitar 1911. Kemudian, seorang insinyur bernama Ir Damme diutus untuk memelajari perkembangan tersebut. Pada 1917 keluarlah hasil pantauan yang ditujukan ke Pemerintah. Kemudian laporan ini ditindaklanjuti dengan pembuatan proposal yang diajukan ke Dewan Liga Belanda. Hasilnya, usulan elektrifikasi ini disetujui.

Pada 1920, seorang pakar lain bernama Ir Reitsma mengkaji usulan tersebut. Ia mengatakan, elektrifikasi seluruh jalur KA merupakan sesuatu yang terlalu mahal. Karena itu ia menyarankan elektrifikasi dilakukan pada jalur pegunungan saja. Hal ini dilakukan karena waktu itu biaya perawatan armada kereta api pegunungan sangat mahal.

"Sempat terjadi perdebatan di kalangan pakar. Namun perusahaan kereta api pemerintah waktu itu, Staatsspoorwegen (SS) berhasil meyakinkan parlemen di Belanda. Mereka mengacu data bahwa saat itu kedatangan kapal di pelabuhan Tanjung Priok yang berlanjut dengan pengangkutan melalui kereta api telah mencapai lebih dari 10 juta penumpang per tahun. Padahal, di Amsterdam saja jumlahnya tidak setinggi itu. Karena itulah parlemen menyetujui, namun proyek elektrifikasi ini berupa proyek ujicoba (pilot project)," papar Ir Widoyoko.

Jalur yang disetujui adalah koridor Jakarta-Bogor. Setelah disetujui, mulailah proses pembangunan berupa pemesanan material dan pengerjaan di bawah pimpinan proyek Ir de Helder. Ia juga menyosialisasikan hal tersebut ke para insinyur lain di Negeri Belanda melalui seminar. Selanjutnya materi seminar dipublikasikan di majalah De Ingenieur.

"Tahap pertama pembangunan tentu saja sumber listriknya melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Kenapa memilih tenaga listrik dari air? Alasannya, saat itu banyak sungai di Jawa yang tidak dimanfaatkan potensi airnya. kalau memilih tenaga uap berpotensi merusak lingkungan karena mengandalkan batubara; selain tentunya pada waktu itu masih harus impor dari Australia," lanjut Ir Widoyoko.

Akhirnya pada 1923 berdirilah PLTA Oebroeg (Ubrug) di Cibadak, Jawa Barat. Sungai Cicatih dibendung untuk membuat waduk penampungan. Dari PLTA ini, listrik 70 KV berhasil dialirkan ke gardu di Meester Cornelis (Jatinegara) dan Ancol. Daya listrik kemudian 70KV AC diturunkan (Step down) ke 6KV AC dan dikonversi lebih lanjut ke tegangan 1500V DC yang digunakan untuk menggerakkan KA.

Sementara untuk armadanya, didatangkanlah beberapa lokomotif listrik buatan Werkspoor, Beijnes dan Allan. Beberapa tipe yang dikenal antara lain lokomotif serie 300 untuk KA ekspress. Serie 3100 untuk KA reguler yang berkekuatan 1500PK. Namun lokomotif seri ini juga bisa untuk KA reguler. Ada pula serie 3300 untuk KA barang dan serie 4000 yang khusus untuk langsir.

"Pada peresmian jalur KA listrik antara Meester Cornelis dan Tanjung Priok pada 6 April 1925, masyarakat antusias melihat dan menggunakan KA listrik ini. Hal ini menunjukkan elektrifikasi secara teknis tidak mengalami hambatan berarti. Keraguan parlemenlah yang menjadi permasalahannya. Hal ini menjadi pondasi yang baik untuk angkutan publik di masa depan. Bisa kita lihat saat ini, apabila tidak ada KRL, maka apa jadinya jalan raya, terutama jalan tol," tegas Ir Widoyoko.

Pria Kelahiran Purworejo ini kemudian mengungkapkan pengamatan pribadinya yang sempat menikmati keberadaan Lokomotif Listrik di Ibukota pada 1976-1985. Keberadaan lokomotif listrik disusul set KRL buatan Jepang dari pabrik Nippon Sharyo pada 1976. Kemudian pada 1994 PT Industri Kereta Api (INKA) bekerja sama dengan BN Holec berhasil membuat KRL berteknologi terkini yaitu Variable Voltage Variable Frequency (VVVF). Kemudian pada 2003 INKA meluncurkan Kereta Rel Listrik Indonesia (KRLI).
Satu Unit KRL melintas di Stasiun Gambir. Dok Pri


"Kesimpulannya, sistem perkeretaapian di Indonesia saat itu sangat modern dan lebih maju dibanding negeri Belanda. Pada 1930an itu di Belanda bahkan belum ada lokomotif listrik. Sistem transportasi umum perkotaan yang ada di Indonesia saat itu mendahului zamannya (terdiri dari heavy and light rail) bahkan lebih baik dari Amsterdam.Pengembangan elektrifikasi sukses melibatkan industri dalam negeri dan pakar-pakar nasional. Pelayanan transportasi umum juga melayani semua golongan masyarakat dan bermartabat," kata Ir Widoyoko.

Sementara itu, Ella Ubaidi mengatakan, pihaknya dalam rangka merawat sejarah elektrifikasi jalur KA di Jakarta akan membuat semacam museum elektrifikasi di Jatinegara. Tempat tersebut akan menjadi pusat informasi elektrifikasi. Hal ini dilakukan untuk mewadahi keingintahuan orang mengenai sejarah elektrifikasi di wilayah Ibukota dan sekitarnya. 

"Hasil presentasi yang dikerjakan oleh pak Widoyoko bersama kami itu akan menjadi semacam panduan, tidak hanya untuk kegiatan wisata, namun juga ilmu pengetahuan," katanya.

Terkait dengan telah dihentikannya beberapa jenis KRL dan telah dikumpulkan di Purwakarta, Ella mengatakan pihaknya telah menyelamatkan setidaknya satu jenis dari setiap KRL. Untuk sementara set KRL yang dipreservasi tersebut ditaruh di Manggarai. 

Di kesempatan yang sama, Djoko Setijowarno mengatakan, elektrifikasi merupakan sistem angkutan yang dampak lingkungannya mendekati nol. Apa yang terjadi saat ini di Indonesia saat ini merupakan kemunduran dimana banyak jalur trem dicabut. Padahal dulu di beberapa kota misalnya Surabaya, Semarang, Malang bahkan Balikpapan memiliki trem.

Mengenai rencana pengoperasian KRL di Indonesia, Djoko menyatakan hal itu merupakan sesuatu yang positif. "Elektrifikasi di Yogya memang sudah seharusnya dilakukan. Angkutan perkotaan yang berdaya angkut besar dan berdampak lingkungan kecil memang harus dibangun," tegasnya.

No comments:

Post a Comment

Mohon bantuan kliknya