Hanya satu catatan dari pengamatan saya

Hasil pengamatan seputar kehidupan sehari-hari, jalan-jalan, film, hingga soal sejarah, kereta api dalam dan luar negeri

Tuesday 29 May 2018

Unik, Masjid Ini Berkonsep seperti Stasiun

Menyambut Ramadan, masjid Al-Ikhlas Patukan dihias layaknya stasiun dengan berbagai atribut layaknya stasiun kereta api. Dok Pri




Stasiun memiliki masjid atau musala itu biasa, namun apa jadinya bila ada masjid yang bagaikan stasiun? Itulah yang ditampilkan oleh Masjid Al-Ikhlas Patukan di Patukan, Gamping, Sleman. Memeriahkan Ramadan, Masjid ini dihias layaknya stasiun.
Ketika jam menunjukkan pukul empat sore, menara masjid mengumandangkan sesuatu yang berbeda. Nada melodi seperti yang diperdengarkan di stasiun kereta api lantang keluar dari pengeraa suara masjid. Tidak lama kemudian terdengar pengumuman.

"Mohon perhatian, sesaat lagi pasar peron masjid Al Ikhlas Patukan segera dimulai. Bagi para penumpang yang sudah memiliki tiket diharapkan segera berkumpul," demikian pengumuman tersebut berbunyi.


Anak-anak dari sekeliling masjid pun tidak lama kemudian berdatangan. Sebelum kegiatan TPA, mereka menyempatkan diri bermain-main di lokomotif uap yang terbuat dari kayu yang ada di halaman masjid.

Takmir masjid Al-Ikhlas, Riza Purnawan mengatakan, masjid Al-Ikhlas memang memiliki cara unik untuk memeriahkan Ramadan. Hal ini sudah berlangsung selama 7 tahun.

"Namun baru dua tahun belakangan ini benar-benar fokus dihias seperti stasiun. Selain nada untuk memanggil jemaah, ada pula model lokomotif uap di halaman masjid. Rencananya loko itu akan dipakai untuk takbir nantinya," kata Riza

​ kepada awak media, Kamis (1/6)​
.


​Riza mengungkapkan, ada proses panjang sebelum akhirnya masjid Al-Ikhlas menerapkan konsep stasiun ini. Sebelumnya, takmir masjid sempat berkunjung ke Masjid Jogokaryan yang terkenal dengan Kampung Ramadhannya.



"Dicari juga konsep yang sesuai di sini agar ada nuansa yang unik yang membuat orang tertarik dan bersemangat. Kemudian terpikir kalau dekat sini ada Stasiun Patukan. Akhirnya dicoba menerapkan konsep ini," katanya.




Sebelum menerapkan konsep ini, lanjut Riza, pihaknya berkonsultasi dengan PT KAI dalam hal ini petugas stasiun. Hal ini dilakukan agar konsep yang diusung bisa bermanfaat untuk kedua belah pihak.


​"Ternyata pihak stasiun mendukung. Katanya hal itu juga bisa sekaligus mempromosikan kereta api. Sementara bagi kami, ini bisa menjadi konsep khas yang tidak ada di tempat lain," katanya.



Dalam mendesain hiasan masjid, menurut Riza, pihaknya melakukannya secara gotong royong didukung oleh donatur. Misalnya untuk melodi stasiun ia mengunduhnya dari internet sementara tiruan lokomotif uap dibuat bersama-sama menggunakan barang-barang seadanya.​
​ 
Tidak hanya nada dan lokomotif, masjid juga dihias dengan berbagai benda layaknya stasiun. Mulai dari gerbang boarding, hingga papan pengumuman.
​​
Keunikan masjid ini juga berkesan untuk seorang warga, Istanto. Pria asal Moyudan ini mengaku, ia terkesan dengan cara takmir untuk memeriahkan Ramadan. "Dengan cara seperti ini, anak-anak jadi suka. Masjid dan kegiatannya bisa semakin ramai," katanya.


​Sementara itu, Ustaz Moh Mansyur seorang penceramah di masjid tersebut mengatakan, selama tidak bertentangan dengan akidah agama, hal yang menarik semacam ini perlu didukung. "Apalagi ini bisa membuat anak-anak semakin bersemangat datang mengikuti kegiatan di masjid," katanya.​
(
​*​
)

No comments:

Post a Comment

Mohon bantuan kliknya